JL. H. AMSIR 2, Kampung Bayur, Cipinang Melayu, Makkasar, Jakarta Timur. Foto Julia Aninda Putri
Musim hujan merupakan anugerah alam yang membawa kehidupan bagi banyak masyarakat. Namun, di balik keindahan hujan, kita juga perlu memahami potensi risiko banjir yang dapat mengancam pemukiman dan infrastruktur. Oleh karena itu, penting bagi warga untuk senantiasa memperhatikan sisa banjir dan melakukan persiapan yang tepat saat memasuki musim hujan.
Saat ini, Musim hujan tiba, membawa harapan kehidupan baru bagi masyarakat di Cipinang Melayu, Makassar, Jakarta Timur, khususnya di Kampung Bayur. Namun, di tengah kebahagiaan menyambut air hujan yang begitu dinanti, risiko banjir tetap menjadi tantangan yang perlu dihadapi dengan bijak.
Hujan deras pada Senin (4/12) dini hari menyebabkan banjir di sejumlah titik di Kampung Bayur, JL. H. AMSIR 2, Kelurahan Cipinang Melayu, Kecamatan Makkasar, Kota Jakarta Timur. Banjir diduga dipicu meluapnya Kali Sunter akibat hujan deras. Banjir ini terkait dengan wilayah yang datarannya rendah dan cepat menggenangi rumah-rumah warga (5/12/2023). Oleh karena itu, warga bahu-membahu membersihkan rumah mereka, dengan kerja sama yang membuat rasa capek dan lelah tidak terasa.
“Dibilang tantangan terbesar yang di hadapinya, itu tidak, karena sudah terbiasa dalam menghadapi masalah banjir. Jadi bukan tantangan yang sulit.” Ujar Alidya, Warga Kampung Bayur.
Sisa banjir yang dirasakan warga, bukanlah menjadi tantangan terbesar yang mereka hadapi karena sudah terbiasa melewati momen banjir seperti ini.
“Saya sudah mempersiapkan diri saya, kalau tiba-tiba banjir datang, barang-barang rumah saya sudah saya taruh di tempat yang lebih tinggi dan aman. Pengungsian warga akan diarahkan ke Masjid Universitas Borobudur yang sudah dilengkapi fasilitas seperti posko kesehatan dan dapur umum.” Lanjut kata Alidya
Warga sudah mempersiapkan dirinya untuk menghadapi hujan yang akan datang. Dan sudah mempunyai langkah-langkah yang akan di persiapkan mulai dari memindahkan barang-barangnya, dan menjaga terus kebersihan lingkungan. Walaupun tidak ada pengumuman khusus untuk mengantisipasi datangnya banjir dan hujan deras. Warga sudah memiliki kesadaran sendiri jika cuaca mulai berubah.
“Kami meminta pemerintah untuk bisa membuat komplek kita bebas banjir, entah membuat bendungan yang lebih besar lagi ataupun pompa yang kebih kuat.” Ujar Elisabet Warga sekaligus Karang Taruna.
Wargapun mempunyai saran yang ingin di sampaikan, dan ingin mempunyai wilayah yang bebas banjir. Warga setempat pun sudah berupaya dengan cara menguruk aliran kali tersebut, dan tidak membuang sampah di kali.
Warga, terutama di Kampung Bayur, dapat menghadapi musim hujan dengan lebih tangguh melalui kerjasama aktif dalam menyoroti sisa banjir dan meningkatkan persiapan. Kunci utamanya adalah kerjasama antara warga dan pemerintah setempat untuk menciptakan lingkungan yang aman dan nyaman selama musim hujan.