Senin, 13 November 2023

Ayahku Separuh Jiwa Ku, Semangat Ku Ada Di Orang Tua Ku

 Nama ayah ku adalah Tri Mulyanto, beliau lahir di Jakarta pada tanggal 06 Maret 1976. Beliau adalah anak terakhir dari 3 bersaudara, 2 perempuan dan 1 laki-laki. Ayah beliau bernama Sumadi dan ibundanya bernama Painah.


Sejak kecil beliau sudah mandiri, lulus dari SDN 08 Petang, beliau menimba ilmu di SMPN 201 Jakarta Barat. Lulus dari SMP beliau melanjutkan pendidikan ke sekolah di SMAN 95 Jakarta beliau sering mendapatkan beasiswa, karena beliau siswa berprestasi.


Setelah lulus sekolah, beliau bekerja menjadi supir antar jemput sekolahan selama kurang lebih 1 tahun, kemudian bekerja di PT. FIS Sejahtera Dirgantara sampai sekarang, yang awalnya di PT itu tidak ada jabatan hingga mendapatkan jabatan di PT. FIS Sejahtera Dirgantara.


Sebagai kepala keluarga ayah ku selalu bekerja keras demi menghidupi istri dan 2 anaknya. Beliau selalu bekerja keras siang dan malam untuk memberikan yang terbaik kepada keluarganya, tak luput dalam kesibukannya beliau pun sering menyempatkan waktu untuk anak-anaknya.


Menanamkan prinsip-prinsip kehidupan, memberikan pesan moral untuk selalu berusaha dan berikhtiar juga dibarengi dengan doa untuk mencapai cita-cita. Beliau memotivasi kami anak - anaknya untuk belajar dan menuntut ilmu setinggi mungkin, berharap anak-anaknya bisa jauh lebih baik darinya.


Beliau adalah panutan ku, aku sebagai anak pertama yang dilahirkan beliau. Walau sesibuk apapun pekerjaannya, beliau masih sempat meluangkan waktunya untuk keluarga. Karena semangat beliau untuk bekerja demi menyejahterakan keluarga adalah motivasi bagi ku untuk terus maju dan menggapai impian. Sebagai anak, aku bangga menjadi bagian dari keluarga beliau.

Saya Julia Aninda Putri, lahir 9 Juli 2003, di Sragen, Jawa Tengah. Anak Pertama dari dua bersaudara, aku mempunyai adik yang bernama Muhammad Fadhilah Akbar kami beda 6 tahun. Ditahun 2021, aku lulus SMA jalur corona yang apa apa serba online. Aku bukan termasuk siswa eligibel tetapi aku tidak berkecil hati dan patah semangat, jalur untuk masuk kuliah sangat banyak. 


Aku yakin kalo aku bisa masuk PTN, tetapi aku tidak boleh mengambil kuliah di luar Jakarta oleh kedua orang tua ku, beliau sangat amat melarang karena tidak bisa jauh dari seorang anak pertamanya.


Aku mendaftar kuliah hanya di Jakarta saja. Awal mula saya mendaftar jalur SBMPN di PNJ (Politeknik Negeri Jakarta) dan SPAN PTKIN di UIN Jakarta (universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta) keduanya tidak keterima.


Aku sempat mikir “sudah tidak ada harapan lagi”. Karena harapan terakhir hanya SBMPTN saja, dimana persaingan semakin banyak dan ketat, aku mencoba ikut SBMPTN dan hasilnya nihil tidak keterima.


Aku sempat down dan aku mencoba kuat. Aku mempunyai sahabat sedari kecil bernama Gina, ia mengajak untuk mendaftar SBMPN dan akhirnya kita mendaftar bareng, bayar bareng apa apa selalu bareng. Sekelarnya ujian aku memang sudah ga berharap banyak di jalur SBMPN ini.


Tibalah pengumuman di hari sabtu keluar, tetapi aku tidak berani untuk membukanya. Akhirnya yang membuka pengumuman aku yaitu teman aku yang satu kelompok, dan hasilnya lolos keterima D3 Penerbitan Jurnalistik.



Aku keterima di Jurnalistik, tetapi aku sedih karena Gina tidak keterima padahal kita dari awal berjuang bersama. Mungkin rezeki Gina bukan di PNJ. Dan akhirnya, alhamdulillah saya bisa kuliah di Politeknik Negeri Jakarta (PNJ) jurusan Teknik Grafika Penerbitan prodi Penerbitan Jurnalistik. 


Ini semua berkat doa dukungan orang tua dan sahabat yang tak henti. Aku  mengucapkan banyak terima kasih khususnya kepada ibu, bapak ku dan sahabat ku, yang selalu memberi support dan doa yang tidak berhenti.


Aku sangat senang dapat diterima di PNJ mengenal teman-teman baru, relasi baru, mengenal kehidupan kuliah, dan dapat belajar kembali. Aku berharap bisa mengembangkan bakat di PNJ, bisa mengejar cita-cita ku dan membanggakan kedua orang tua.


Untuk Bapak dan Ibu, ku tahu betapa sulitnya kalian merawat dan menjagaku, membesarkanku juga mendidikku hingga dewasa seperti ini, namun semua itu tidak akan ku sia-siakan. Ku berjanji, pengorbanan kalian adalah kebahagiaan kalian kelak.


 "Untuk membentuk sebuah pasukan yang kuat, aku membutuhkan 1.000 bala tentara. Tetapi, untuk membentuk jiwa yang hebat, aku hanya butuh dampingan orang tua”.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Rohmani Pebisnis E-commerce

  Pencapaian Omset Puluhan Juta: Tantangan di Balik Bisnis Pakaian Dalam Online P latform E-commerce Rohmani Saat Sedang Live . Foto Julia A...